Sabtu, 03 Desember 2011

Belajarlah dari kegagalanmu..


Manusia yang hebat adalah manusia yang belajar dari kegagalannya..
Hari ini saya merasa gagal, karena ini hari pertama saya menjomblo. Haha, terdengar aneh bukan..merasa gagal karena jomblo. Yah saya merasa gagal menjalin hubungan dengan seseorang..lagi...dan lagi..
Ini memang bukan kali pertama saya gagal, ini memang sudah yang kesekian kalinya. Tetapi kali ini berbeda, semalam akhirnya saya mengalami pertengkaran hebat dengan seseorang yang bersifat sangat kasar terhadap saya, baik itu secara lisan maupun perilaku. Mungkin terdengar agak miris, tapi memang itu yang saya rasakan selama kurang lebih 5 bulan.
Hubungan ini sangat singkat, dan saya pun sangat menyayangi dia, sampai akhirnya saya harus mengikhlaskan hubungan ini.
Masih terngiang saran dari seorang sahabat, bahwa kadang perasaan perasaan harus berbanding lurus dengan logika.
Masih ingat cerita tentang Vradwin? Vradwin ini sangat-sangat berbanding terbalik dengan pacar saya, mungkin saya harus mengganti kata pacar ini dengan mantan pacar. Agak miris, dan saya tidak menampik kesedihan yang saya rasakan. Sedih...itu sudah pasti. Tapi kehadiran Vradwin saat ini secara tidak sadar sudah membangkitkan semangat hidup saya.
Saat ini saya sendiri, duduk di tengah-tengah cafe di bilangan Jakarta Pusat, menikmati keindahan gemerlap ibukota, dengan secangkir kopi dan rokok dengan background dan backsound muda – mudi yang sedang dimabuk cinta.
Pemandangan ini seakan menampar saya, ‘life is so real’, hidup itu tidak mungkin seindah mimpi atau cerita-cerita dongeng yang selalu kita dengar saat kecil. Hidup itu nyata, ada banyak elegi, perih, tangis, tawa, canda, sangat banyak warna. Sedetik kemudian saya sadar, bahwa hidup itu mengkerucut ke atas, semakin bertambah nya umur, semakin sedikit pula orang-orang yang bisa menemani saya disaat saya benar-benar butuh seseorang untuk sekedar tertawa atau sharing sejenak.
Keadaan ini benar-benar mencambuk hidup saya dan menyadarkan bahwa hidup saya harus dimulai dari nol lagi. Mencari seseorang yang lain lagi yang kira-kira lebih baik, harus jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya jadi teringat pada kata-kata orang tua dulu, “jika ingin menjadi orang baik, kita harus menjadi baik dulu”. Mungkin Tuhan marah kepada saya, selama ini mungkin karena saya sudah jarang menghadap-Nya. Cukup malu untuk mengadu, tapi Dia yang Maha Baik, Maha Agung dan Maha Kuasa, Dia juga Maha Pemaaf. Cukup lah cerita saya kemarin benar-benar saya akhiri.
Hari ini, sambil menunggu Vradwin, saya merenungi kembali segala sesuatunya yang telah lewat.
Orang bijak tidak pernah menyesali kegagalannya, tetapi orang bijak selalu belajar dari kesalahan dan kegagalannya. Terimakasih Vradwin, selalu menemani saya sampai sekarang.

Jumat, 18 November 2011

Awal cerita Vradwin..

Jumat di Jakarta looks like a messy day. Karena macet yang menyebabkan semua orang Jakarta lebih memilih untuk duduk2 manis atau nongkrong2 di cafe atau dimanapun itu. Dan akhirnya, hari ini gw memutuskan untuk ke kuningan village bareng temen2. Tidak seperti Jumat2 biasanya, karena hari Jumat ini, gw tidak ditemani sang pacar untuk nongkring2 alias duduk2 manis bersenda gurau bareng temen2. Jumat ini berbeda, karena gw ditemani seorang teman kantor, yang masih baru bergabung di tempat gw bekerja. Awalnya gw dan seseorang ini (sebut saja namanya Vradwin) cuma teman biasa yang tegoran atau bahkan ngobrol pun jarang terhitung gak pernah. Sampai suatu ketika di sore hari, si Vradwin secara random menanyakan Pin BB dari semua temen2 gw yang satu divisi juga sama gw. Awalnya gw ngerasa wajar karena kita memang rekan satu kantor. Sampai suatu ketika disuatu malam, Vradwin mulai mengirimkan bbm ke gw. Lagi-lagi awalnya bbm ini terlihat wajar, sampai lama-lama percakapan gw dan Vradwin berubah ke arah yang lebih menunjukkan perhatiannya si Vradwin.

Jauh dari dugaan gw, Vradwin yang gw kira orang yang serius, ga begitu suka ngobrol sama orang-orang di kantor, ternyata adalah seorang sosok yang berbeda. Gw mulai mengenal dia yang begitu menyenangkan, yang ternyata suka becanda dengan wajah "cool" nya dan pada akhirnya gw merasakan sebuah kenyamanan. Ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dekat dengan pria keturunan Batak dan Jawa ini.

Kembali lagi ke topik, Jumat ini, gw berniat mendekatkan seorang teman wanita gw (sebut saja namanya Putri) dengan teman pria gw (sebut saja namanya Putra). Rencananya, gw emang cuma mau jalan sama Putri dan Putra, menghabiskan waktu Jumat malam di sebuah cafe di bilangan Kuningan - Jakarta Selatan. Tetapi rencana ini agak bergeser sedikit, karena ternyata Vradwin akhirnya ikut juga nongkrong bareng, jadi untuk pergi ke cafe ini gw bareng dengan Vradwin. Sepanjang perjalanan menuju ke cafe ini, gw dan Vradwin belum pada tahap kehabisan cerita, dan cukup menyenangkan untuk bercanda ataupun berbicara serius dengan dia. Sampai akhirnya gw dan Vradwin seakan terbius dan terbawa pada suasana, untuk pertama kalinya he held my hand. Ada rasa yang begitu berdegup rasanya, sampai suatu ketika gw sadar saat melihat Putra dan Putri di depan gw yang datangnya beberapa menit kemudian setelah gw dan Vradwin sampai di cafe itu. Tujuan gw mendekatkan Putra dan Putri ini adalah karena Putri memiliki seorang pacar yang berbeda keyakinan dengan dia. Sedangkan gw dan Vradwin pun juga memiliki keyakinan yang berbeda. Vradwin yang selalu memberikan pelayanan di gereja nya dan gw seorang dari anak tokoh masyarakat yang dikenal cukup alim di lingkungan perumahan gw tinggal. Bokap gw merupakan penganut agama Islam yang kuat, nyokap gw yang rata-rata keluarganya pernah mengenyam pendidikan di pesantren, itu sangat-sangat tidak akan mungkin bisa menerima keberadaan Vradwin untuk masuk dalam kehidupan gw.

Tersentak lagi gw pun tersadar, pelan-pelan Vradwin mulai mengisi kekosongan yang diakibatkan sifat cuek dari pacar gw sendiri. Pelan-pelan Vradwin mulai mengenal gw dan begitu pula sebaiknya. Pelan-pelan Vradwin mulai memasuki alam pikiran bawah sadar gw dan membuat gw khawatir ketika dia sakit. Pelan-pelan tetapi pasti, gw gak boleh terbuai dengan perasaan atau entah apa ini namanya terhadap Vradwin. Gw dan Vradwin itu jelas "beda". Dan satu hal nyata yang harus gw jalanin sekarang adalah, gw udah punya pacar yang keluarganya sudah seperti keluarga gw sendiri. Gak, ini emang gak boleh diterusin.

Semoga setelah tidur malam ini, gw berhasil menyelesaikan urusan perasaan gw dengan Vradwin. Semoga ini hanya sesaat aja karena mungkin gw dan Vradwin terbawa suasana yang mengakibatkan sepanjang malam di cafe hingga pulang, Vradwin tidak melepaskan genggaman tangannya.

Dan semoga ini hanya sesaat...

Sabtu, 05 November 2011

hari ini saya belajar....


Hari ini saya belajar, bahwa cinta itu seharusnya tidak egois..
Mencinta yang sebenarnya adalah ketika kamu merasakan ketulusan tanpa mengharapkan imbalan akan cinta itu sendiri..
Hari ini saya belajar, belajar dari seorang yang telah kehilangan istri yang dicintainya dan telah mengarungi bahtera rumah tangga selama kurang lebih 33 tahun. Sampai akhirnya sang istri meninggal karena penyakit gagal ginjal yang diderita oleh istrinya.
Hari ini saya juga belajar untuk tidak egois dalam mencinta, ketika saya tahu bahwa saya sudah benar-benar kehilangan orang yang sebenarnya saya cintai tetapi karena keegoisan saya sendiri, cinta itu pergi dengan sendirinya sehingga saya benar-benar sadar bahwa keegoisan membuat kita menyia-nyiakan orang yang kita cintai.
Hari ini, ketika saya menyadari akan cinta yang saya miliki dan akhirnya saya kembali kepada orang tersebut untuk membalas cinta yang kemarin saya sia-siakan, ternyata semuanya sudah terlambat. Orang tersebut sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan wanita yang sudah menjaga nya. Mungkin memang sudah sangat terlambat, dan sayapun tidak menyalahkan pria tersebut, karena memang awalnya dan beberapa kali saya menariknya dan meninggalkannya atau menyia-nyiakan kasih yang sudah diberikan. Sampai akhirnya berita ini pun diucapkan langsung olehnya.
Terima kasih atas semua pelajaran yang sudah diberikan. Mungkin memang sudah terlambat untuk menyadari atau menyanginya, tetapi ini pelajaran yang sangat berharga buat saya. Ketika saya ternyata juga sudah menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak sepenuhnya men “treat” saya sama seperti dia memperlakukan saya dulu. Bukan maksud untuk membandingkan, tetapi penyesalan memang selalu datang di akhir cerita. Mungkin cerita saya dan cinta pertama saya ini memang seharusnya disudahi. Hingga akhirnya saya sadar bahwa kita tidak pernah tahu akan sesuatu hal yang berharga sampai sesuatu yang berharga itu benar-benar hilang.
Hari ini saya belajar, belajar untuk lebih menghargai cinta, belajar untuk lebih menghargai perasaan, belajar untuk menerima kenyataan, dan ikhlas ketika sesuatu yang sangat berharga harus pergi.
Dan esok hari saya juga harus belajar untuk menjadi orang yang baru dengan cinta yang baru.
Terimakasih cinta pertama ku, kau telah memberikan aku pelajaran yang sangat berharga akan sebuah ketulusan. Kau telah menyadarkan ku untuk tidak menyia-nyiakan orang yang sudah sayang dan banyak berkorban tanpa pamrih demi orang yang disayanginya. Terimakasih cinta pertamaku, aku selalu berdoa untukmu dan kebahagiaanmu.