Manusia yang hebat adalah manusia yang belajar dari kegagalannya..
Hari ini saya merasa gagal, karena ini hari pertama saya menjomblo. Haha, terdengar aneh bukan..merasa gagal karena jomblo. Yah saya merasa gagal menjalin hubungan dengan seseorang..lagi...dan lagi..
Ini memang bukan kali pertama saya gagal, ini memang sudah yang kesekian kalinya. Tetapi kali ini berbeda, semalam akhirnya saya mengalami pertengkaran hebat dengan seseorang yang bersifat sangat kasar terhadap saya, baik itu secara lisan maupun perilaku. Mungkin terdengar agak miris, tapi memang itu yang saya rasakan selama kurang lebih 5 bulan.
Hubungan ini sangat singkat, dan saya pun sangat menyayangi dia, sampai akhirnya saya harus mengikhlaskan hubungan ini.
Masih terngiang saran dari seorang sahabat, bahwa kadang perasaan perasaan harus berbanding lurus dengan logika.
Masih ingat cerita tentang Vradwin? Vradwin ini sangat-sangat berbanding terbalik dengan pacar saya, mungkin saya harus mengganti kata pacar ini dengan mantan pacar. Agak miris, dan saya tidak menampik kesedihan yang saya rasakan. Sedih...itu sudah pasti. Tapi kehadiran Vradwin saat ini secara tidak sadar sudah membangkitkan semangat hidup saya.
Saat ini saya sendiri, duduk di tengah-tengah cafe di bilangan Jakarta Pusat, menikmati keindahan gemerlap ibukota, dengan secangkir kopi dan rokok dengan background dan backsound muda – mudi yang sedang dimabuk cinta.
Pemandangan ini seakan menampar saya, ‘life is so real’, hidup itu tidak mungkin seindah mimpi atau cerita-cerita dongeng yang selalu kita dengar saat kecil. Hidup itu nyata, ada banyak elegi, perih, tangis, tawa, canda, sangat banyak warna. Sedetik kemudian saya sadar, bahwa hidup itu mengkerucut ke atas, semakin bertambah nya umur, semakin sedikit pula orang-orang yang bisa menemani saya disaat saya benar-benar butuh seseorang untuk sekedar tertawa atau sharing sejenak.
Keadaan ini benar-benar mencambuk hidup saya dan menyadarkan bahwa hidup saya harus dimulai dari nol lagi. Mencari seseorang yang lain lagi yang kira-kira lebih baik, harus jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya jadi teringat pada kata-kata orang tua dulu, “jika ingin menjadi orang baik, kita harus menjadi baik dulu”. Mungkin Tuhan marah kepada saya, selama ini mungkin karena saya sudah jarang menghadap-Nya. Cukup malu untuk mengadu, tapi Dia yang Maha Baik, Maha Agung dan Maha Kuasa, Dia juga Maha Pemaaf. Cukup lah cerita saya kemarin benar-benar saya akhiri.
Hari ini, sambil menunggu Vradwin, saya merenungi kembali segala sesuatunya yang telah lewat.
Orang bijak tidak pernah menyesali kegagalannya, tetapi orang bijak selalu belajar dari kesalahan dan kegagalannya. Terimakasih Vradwin, selalu menemani saya sampai sekarang.